- Sebuah Penghormatan Terakhir Untuk Vidi Aldiano
Oleh : M.Guntur Alting
Kehilangan adalah nada yang paling sulit untuk dinyanyikan.
Hari ini, industri musik Indonesia berduka. Sosok yang dikenal dengan senyum lebarnya. Keramahan yang menembus sekat pertemanan, dan suara “falsetto”-nya yang khas.
Oxavia Aldiano—atau yang kita kenal sebagai Vidi Aldiano—telah menyelesaikan bait terakhir dalam lagunya di dunia ini.
–000–
Sosok Yang Melampaui ” Nuansa Bening”
Vidi bukan sekadar penyanyi yang melejit lewat remake lagu legendaris milik Keenan Nasution.
Ia adalah simbol daya tahan. Di tengah perjuangan kesehatannya yang sering ia bagikan dengan penuh transparansi.
Vidi tidak pernah membiarkan rasa sakit mencuri keceriaannya.
Banyak yang mengenalnya sebagai “Social Butterfly” karena kemampuannya berteman dengan siapa saja.
Namun di balik itu, ia adalah seorang musisi yang punya kedalaman spiritual yang kuat.
–000-
Jejak Religi dan Kedekatan dengan Sang Pencipta
Meskipun Vidi dikenal dengan lagu-lagu pop “upbeat.” Jejaknya di dunia musik religi meninggalkan kesan yang mendalam:
- Lagu “Thola’al Badru”:
Lewat aransemen yang modern namun tetap khidmat. Vidi berhasil membawakan salawat ini ke telinga generasi muda dengan cara yang segar.
- Refleksi Diri:
Dalam beberapa tahun terakhir, karya-karyanya terasa lebih kontemplatif. Perjuangannya melawan sakit membuatnya sering kali berbicara tentang kepasrahan dan rasa syukur—sebuah bentuk “religiusitas” yang nyata dalam keseharian.
- Energi Positif sebagai Ibadah:
Bagi Vidi, menghibur orang lain di tengah rasa sakitnya sendiri adalah caranya memuliakan hidup yang diberikan Tuhan.
–000–
Warisan yang Takkan Padam
Vidi mengajarkan kita bahwa hidup bukan tentang berapa lama kita bernapas, tapi berapa banyak kebahagiaan yang kita bagikan selama napas itu ada.
Ia pergi meninggalkan harmoni yang indah: tentang keberanian, tentang cinta pada keluarga, dan tentang bagaimana menghadapi ujian dengan kepala tegak.
“Aku ingin diingat sebagai orang yang selalu membawa kegembiraan,” Ungkapnya dalam satu kesempatan.
Selamat jalan, Vidi. Terima kasih telah meminjamkan suaramu untuk menghiasi hari-hari kami.
Kini, bernyanyilah dengan tenang di tempat yang paling indah, di mana tak ada lagi rasa sakit, hanya ada kedamaian yang abadi. (***)
Pejaten Barat, 8 Maret 2026
Pukul : 01.40
















