banner 728x250

RAMADAN YANG TAK LAGI SAMA

Oleh : Ismail Ibrahim,M.Sos/ Alumni S-2 Universitas Jendral Sudirman

Ramadan selalu hadir dengan suasana yang khas. Bukan sekadar soal menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang aroma kolak, santan, dan ikan bakar yang saling bersahutan menyelinap dari satu dapur ke dapur lainnya.

Di berbagai pelosok Indonesia, bulan suci ini bukan hanya momentum spiritual, melainkan sebuah perayaan sosial yang hangat.

Namun, di Kelurahan Bobo, suasana itu perlahan memudar. Tradisi “tukar menu” yang dulu menjadi denyut nadi kebersamaan kini nyaris tak terdengar detaknya.

–000–

Pertukaran Menu: Lebih dari Sekadar Makanan

Tradisi ini sebenarnya sederhana: menjelang waktu berbuka, warga mengantarkan sebagian masakan mereka ke rumah tetangga, lalu menerima hidangan berbeda sebagai imbalan.

Anak-anak—yang sering menjadi “kurir kecil”—adalah saksi hidup betapa hangatnya interaksi tersebut.

Secara sosiologis, praktik ini adalah bentuk timbal balik yang memperkuat modal sosial. Seperti yang diungkapkan Marcel Mauss dalam The Gift, memberi bukan sekadar pertukaran materi, melainkan cara membangun kepercayaan dan solidaritas.

Dalam konteks Ramadan, tradisi ini adalah bahasa sosial yang mempertegas nilai-nilai religius tentang kepedulian.

Penelitian Shalihin, Azwar, & Yusuf (2024) serta Luthfyah et al. (2023) pun mengonfirmasi bahwa berbagi makanan terbukti efektif meningkatkan interaksi dan menanamkan nilai kerja sama di masyarakat.

Namun, kini rantang-rantang itu lebih sering diam di rak dapur, kehilangan fungsinya sebagai “jembatan” antarwarga.

–000–

Pergeseran Menuju Individualisme

Mengapa tradisi ini pelan-pelan terkikis? Jika ditelisik, ini bukan peristiwa tunggal, melainkan dampak dari perubahan pola hidup.

Pertama, perubahan ritme kerja. Kini, banyak warga yang bekerja penuh waktu, sehingga waktu untuk memasak semakin terbatas. Kita pun beralih ke pilihan praktis: membeli makanan siap saji.

Kedua, kemudahan layanan pesan-antar daring. Hanya dengan satu ketukan di ponsel, takjil tersedia di depan pintu tanpa perlu bertegur sapa dengan tetangga. Efisiensi waktu akhirnya mengalahkan “keromantisan” bertukar menu.

Ketiga, pergeseran ruang interaksi. Di era media sosial, berbagi kerap berpindah dari ruang fisik ke ruang digital. Kita mungkin memotret hidangan untuk diunggah ke linimasa, namun piring tidak lagi berpindah ke rumah sebelah.

Fenomena ini mencerminkan transisi sosiologis yang diteorikan Ferdinand Tönnies: pergeseran dari Gemeinschaft (paguyuban yang hangat dan emosional) menuju Gesellschaft (masyarakat yang lebih rasional, impersonal, dan berbasis kepentingan).

–000-

Refleksi: Apa yang Hilang?

Menghilangnya tradisi tukar menu mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang. “Yang penting ibadah puasanya,” begitu dalihnya.

Namun, kita lupa bahwa tradisi ini adalah mekanisme perekat komunitas.

Ketika tradisi ini hilang, kita tidak hanya kehilangan sepiring kolak, tetapi juga kehilangan medium untuk melatih empati dan etika bertetangga.

Anak-anak kita kini lebih banyak berinteraksi dengan gawai daripada mengenal tetangga di seberang rumah.

Tanpa interaksi fisik yang nyata, identitas kebersamaan kita ikut menyusut.

Kelurahan Bobo hanyalah mikrokosmos dari realitas yang lebih besar. Jika kita membiarkan mekanisme solidaritas ini mati begitu saja, kita mungkin akan tetap menjalankan ibadah dengan khusyuk di ruang privat, namun kita akan semakin asing di tengah lingkungan sendiri.

Mungkin sudah saatnya kita kembali menata rantang, bukan sekadar untuk berbagi rasa, tapi untuk menghidupkan kembali rasa kemanusiaan yang mulai retak. (***)

Referensi :

Luthfyah, N. J., et al. (2023). Peran tradisi berbagi takjil dalam memperkuat nilai sosial di masyarakat. Jurnal Pendidikan Nonformal.

Shalihin, N., Azwar, W., & Yusuf, M. (2024). Ramadan tradition and social piety reproduction in Indonesia. Jurnal Penelitian.

Tönnies, F. (2001). Gemeinschaft and Gesellschaft. Dover Publications.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *