- Refleksi Shalat Ghaib
di Al-Munawwar
Ternate
Oleh : M.Guntur Alting
Siang yang mendung di atas langit kota Jakarta, tepat pukul 11.30 menjelang saya naik mimbar menyampaikan khotbah di Masjid Kantor Pajak Ampera Jakarta.
Tiba- tiba masuk link berita dari Pemred Pikiran Ummat Usman Sergie tentang pelaksanaan shalat ghaib atas wafatnya Imam Ali Khomenei di Masjid Al-Munawwar Ternate.
Usai khutbah dan tiba di rumah saya pun menyusun tulisan ini. Berikut narasinya :
Sejarah sering kali mencatat peristiwa besar bukan melalui kemegahan monumen, melainkan melalui getaran doa yang membumbung dari rumah-rumah ibadah.
Di Masjid Al-Munawwar, momen shalat ghaib untuk melepas kepergian Imam Ali Khomeini menjadi sebuah fragmen sejarah yang memperlihatkan betapa luasnya cakrawala persaudaraan Islam, yang sanggup melampaui batas kedaulatan negara maupun perbedaan etnis.
–000–
Ketika kabar duka itu tersiar dari Teheran, dunia seakan tertahan sejenak.
Di Indonesia, khususnya di selasar Masjid Al-Munawwar, berita tersebut tidak sekadar diterima sebagai warta politik luar negeri, melainkan sebagai kehilangan mendalam atas sosok ulama dan pemimpin spiritual yang karismatik.
Shalat ghaib yang dilaksanakan siang ini bukan hanya pemenuhan kewajiban fikih bagi jenazah yang jauh di mata, tetapi merupakan manifestasi nyata dari rasa hormat terhadap seorang tokoh yang telah mengubah lanskap sejarah modern.
Suasana di dalam masjid pun menyiratkan duka yang tenang; barisan shaf yang rapat menunjukkan kepadatan hati yang bersatu.
Saat takbir pertama dikumandangkan, ada rasa haru yang seketika menyelimuti udara. Di sini, di bawah naungan atap Al-Munawwar, segala perbedaan pandangan politik atau mazhab seolah luruh, digantikan oleh identitas kolektif sebagai umat yang tengah berduka.
Ibadah tersebut kemudian bertransformasi menjadi ruang kontemplasi yang sunyi namun kuat.
Setiap takbir yang diucapkan adalah pengakuan tulus atas kefanaan manusia, sekaligus doa agar warisan pemikiran dan keteguhan iman sang Imam tetap hidup. Meski tidak ada peti mati di hadapan jamaah, kehadiran spiritual tokoh tersebut terasa sangat nyata dalam setiap gerak sujud dan untaian doa yang dipanjatkan.
–000–
Peristiwa di Masjid Al-Munawwar ini menegaskan satu prinsip fundamental: bahwa ukhuwah Islamiyah adalah ikatan organik yang melintasi jarak ribuan mil.
Pelaksanaan shalat ini menjadi bukti bahwa umat Islam memiliki kepekaan tajam terhadap perjuangan saudara mereka di belahan bumi lain.
Bagi banyak jamaah saat itu, Imam Khomeini adalah simbol perlawanan terhadap penindasan dan representasi kebangkitan martabat kaum mustad’afin (golongan yang tertindas).
Maka, ketika salam terakhir diucapkan, shalat ghaib tersebut meninggalkan jejak makna yang mendalam. Ia menjadi pengingat bahwa meskipun seorang pemimpin telah berpulang, nilai-nilai keadilan dan kemandirian yang ia ajarkan akan terus bergema di ruang-ruang masjid dan di lubuk hati para pencari kebenaran.
Al-Munawwar hari itu tidak hanya berdiri sebagai tempat ibadah, tetapi menjelma saksi bisu atas penghormatan terakhir yang khidmat bagi seorang tokoh yang kini telah kembali ke haribaan-Nya.
–000–
Warisan Nilai
“Pada akhirnya, shalat ghaib di Masjid Al-Munawwar bukan sekadar ritual pelepasan seorang tokoh besar, melainkan sebuah ikrar batin bahwa ide perjuangan tidak akan ikut terkubur bersama raga.
Gema takbir yang pernah memenuhi ruang masjid itu tetap menyisakan pesan yang relevan hingga hari ini: bahwa persaudaraan yang berasaskan keadilan dan kemanusiaan adalah kekuatan yang tak sanggup dibendung oleh sekat geografis maupun tirai waktu.”
–000–
Bagi masyarakat Ternate, momen tersebut menjadi catatan emas dalam sejarah religiusitas lokal.
Al-Munawwar yang berdiri kokoh di tepian laut bukan hanya menjadi saksi bisu atas duka yang melintasi samudera. Tetapi juga menjadi bukti bahwa dari kota kecil di timur Indonesia ini, rasa hormat terhadap nilai-nilai universal Islam terpancar nyata.
Sang Imam telah berpulang, namun spirit Al-Munawwar siang itu akan selalu diingat sebagai momen di mana dunia terasa begitu sempit dalam pelukan doa yang tulus.” (***)
Pejaten Barat, 26 Februari 2026
Pukul : 12.40
















