banner 728x250

PUASA DAlAM DEKAPAN MASYARAKAT RISIKO

Esai Refleksi Hari ke-14 dan Gejolak Amerika-Iran

Oleh : M.Guntur Alting

Hari ke-14 Ramadhan 1447 H ini tidak hanya ditandai oleh rasa lapar yang merayap di siang hari, tetapi juga oleh beban batin yang dipicu oleh dentuman mesin perang di belahan bumi lain.

Ketika kita menatap sajadah di pertengahan bulan suci ini, suasana kebatinan kita tidak lagi sepenuhnya murni; ia telah “tercemar” oleh kecemasan global yang akut.

Jika kita membedah kegelisahan ini melalui lensa sosiolog Ulrich Beck, kita akan menyadari bahwa kita sedang menjalankan ibadah di jantung sebuah “Masyarakat Risiko” (Risk Society).

Bagi Beck, modernitas telah melahirkan risiko-risiko yang melampaui batas negara, kelas sosial, dan bahkan waktu.

Konflik yang membara antara Amerika Serikat dan Iran saat ini adalah manifestasi sempurna dari risiko tersebut.

–000–

Di hari ke-14 puasa ini, kita merasakan apa yang disebut Beck sebagai “Globalisasi Risiko”.

Ketegangan di Selat Hormuz atau serangan udara di Teheran bukan lagi sekadar berita luar negeri yang jauh; ia telah hadir di meja makan kita dalam bentuk bayang-bayang krisis energi dan inflasi yang mengancam stabilitas ekonomi rumah tangga.

Di sinilah letak ironi spiritualitas modern: kita mencoba menarik diri dari urusan dunia untuk mendekat kepada Tuhan, namun risiko global justru menarik kita kembali ke pusat pusaran konflik melalui ketergantungan sistemik yang tak terelakkan.

Suasana kebatinan kita saat ini mencerminkan apa yang disebut Beck sebagai “Ketidakpastian yang Terorganisir”.

Kita menyaksikan institusi internasional yang seharusnya menjaga perdamaian tampak lumpuh, sementara kekuatan besar bermain dengan “api” teknologi militer yang dampaknya bisa melenyapkan peradaban.

Rasa “ngilu” yang muncul saat kita mendengar retorika perang di tengah zikir adalah sinyal bahwa nalar kemanusiaan kita menyadari betapa rapuhnya kendali manusia atas ciptaannya sendiri.

Senjata nuklir dan siber bukan lagi instrumen pertahanan, melainkan risiko eksistensial yang “mendemokrasikan” rasa takut. Baik mereka yang berada di Washington, Teheran, maupun Jakarta, kini berbagi kecemasan yang sama di bawah langit Ramadhan yang sama.

–000–

Namun, di tengah kepungan risiko ini, ibadah puasa menawarkan sebuah diskursus baru. Jika dunia politik terjebak dalam logika kehancuran, puasa menjadi sebuah sub-politik—sebuah tindakan individu yang menolak ikut dalam kegilaan massa.

Menahan lapar dan dahaga di tengah dunia yang lapar akan kekuasaan adalah bentuk protes eksistensial.

Kita menyadari, seturut argumen Beck, bahwa kita tidak bisa lagi mengandalkan pakar atau politisi untuk menjamin keamanan kita.

Maka, spiritualitas di pertengahan Ramadhan ini bertransformasi menjadi benteng terakhir untuk menjaga kewarasan.

–000–

Esai ini akhirnya bermuara pada satu simpulan pahit bahwa :

Suasana kebatinan kita hari ini adalah potret manusia yang sedang berupaya tetap beriman di tengah sistem dunia yang sedang runtuh.

Kita adalah masyarakat risiko yang mencari perlindungan dalam doa, menyadari bahwa di era globalisasi ini, “keselamatan” tidak bisa lagi dibeli atau dijaga oleh militer, melainkan harus diperjuangkan melalui kesadaran kolektif untuk berhenti memproduksi bencana.

Di hari ke-14 ini, puasa kita adalah sebuah permohonan agar bara antara Amerika dan Iran tidak menjadi api yang menghanguskan rumah besar bernama Bumi. (***)

Ciputat, 3 Maret 2026
Pukul : 20.15

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *