banner 728x250

Tiongkok Vs Amerika Serikat di Maluku Utara, Dari Halteng ke Halbar

Oleh Mukhtar Adam/Ekonom

Berbagai riset global menunjukan bahwa wilayah kaya sumber daya sering diposisikan sebagai periphery, ruang pasok bagi rebutan kaum kapitalis global, yang saling bertarung, Seperti rebutan Cengkeh dan Pala di masa Protugis dan Spanyol yang menguasai Ternate dan Tidore.

Dinamika itu saat ini bergeser ke Halmahera dari Halteng Vs Halbar, yang terlihat dalam fenomena dalam dua dekade terakhir, transformasi sistem produksi global telah menggeser status wilayah-wilayah tertentu dari sekadar pinggiran menjadi simpul strategis (strategic nodes) dalam rantai nilai global.

Gambaran ini setidaknya menempatkan Halteng, Halsel dan Halbar di Maluku Utara sebagai salah satu titik krusial
Keberadaan cadangan nikel laterit berskala dunia, dikombinasikan dengan meningkatnya kebutuhan mineral kritis untuk transisi energi global, telah menjadikan Maluku Utara bagian integral dari persaingan geopolitik abad ke-21.

Di wilayah ini, rivalitas dua kekuatan ekonomi dunia, Tiongkok dan Amerika Serikat, akan bertemu di Halmahera, bukan dalam forum diplomatik, melainkan dalam bentuk investasi, teknologi, dan penguasaan rantai pasok.

Tulisan ini mencoba mengungkap dinamika investasi Tiongkok ala Presiden Joko Widodo dan masuknya investasi Amerika Serikat di Talaga Ranu ala Presiden Prabowo Subianto, bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari pergeseran struktur kekuasaan ekonomi global. Namun, yang sering luput dari analisis adalah posisi daerah, khususnya Maluku Utara, dalam rebutan kuasa ekonomi global tersebut, Dimana letak Maluku Utara sebagai penerima manfaat atau malah menjadi bencana global yang dimulai dari Halmahera

Sejak krisis finansial global 2008, sistem ekonomi dunia bergerak menjauhi globalisasi liberal menuju apa yang oleh Farrel dan Newman (2019) disebut sebagai weaponized interdependence. Negara-negara besar tidak lagi hanya berlomba menurunkan tarif, tetapi berupaya menguasai simpul-simpul strategis dalam jaringan produksi global, baik teknologi, keuangan, logistik, dan sumber daya alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *