banner 728x250

Catatan Redaksi : DIBALIK VIRALNYA OPINI M.GUNTUR ALTING ” BARA DI BANEMO DAN SIBENPOPO”

Sebuah artikel yang ditulis Dr.M.Guntur Alting,M.Si, akademisi dan sosiolog “meledak” viral di media sosial Tik Tok.Baru sehari diposting dilaman Tik tok PIKIRAN UMMAT, artikel itu telah disaksikan 66.800 viers dengan 2.721 like dan 81 komentar apresiasi

Dapur redaksi media ini mencermati dua point yang memicu “magnitudo” mengguncang jagat maya. Keindahan narasi dan pesan damai yang menggugah rasa ditengah layar medsos yang dipenuhi provokosi menjadi magnetnya.

Walakin : tulisan “Di Balik Bara Banemo dan Sibenpopo” adalah cermin: bagaimana publik kita membaca dan merasakan hal yang paling penting dari sebuah gagasan.

                     ***

Di tengah riuhnya algoritma TikTok yang seringkali memuliakan sensasi ketimbang substansi, tulisan Dr. M. Guntur Alting justru bergerak dengan cara yang berbeda. Ia tidak kaku “ilmiah” dan membumi dalam bahasa dan pesan yang menggugah empatik seolah menghujam narasi provokatif yang menarik libido rusuh.

Ia hadir sebagai narasi yang mengalir—tenang, puitik, namun menyimpan bara makna yang dalam. Dan justru di situlah klimaksnya, ketika publik tersadarkan oleh keindahan bahasanya dan benar-benar menyelami kedalaman pesannya.

Komentar-komentar netizen menjadi penanda menarik dari fenomena ini. Apresiasi mengalir deras—“luar biasa”, “subhanallah”, “sampai mau menangis”—seolah tulisan itu adalah karya sastra yang menggetarkan rasa. Diantara gemuruh pujian, mereka benar-benar menangkap inti pesan: pentingnya pembangunan manusia sebagai fondasi utama peradaban damai.

Di titik ini, kita diingatkan pada apa yang pernah ditegaskan oleh sosiolog besar, Pierre Bourdieu, tentang “symbolic power”—bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan kekuatan yang dapat membentuk realitas sosial. Guntur Alting, dengan gaya ilmiah-populernya, tidak hanya menyusun kata; ia sedang membangun kesadaran.

Patut diakui, kemampuan Guntur Alting dalam merangkai narasi yang puitik tidak sampai kehilangan makna substansial. Guntur punya ikhtiar : setiap sajian artikelnya tidak terjebak pada apa yang sebagaimana diingatkan oleh Jurgen Habermas dalam teori ruang publik, komunikasi yang ideal bukan hanya soal penyampaian, melainkan juga pemahaman yang rasional dan reflektif dari audiens.

Ketika publik lebih larut dalam estetika dibanding substansi, maka ruang publik kita masih bekerja setengah jalan.

                 ***

Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa daya tarik tulisan ini memang terletak pada kemampuannya menjembatani dua dunia: akademik dan populer. Ia tidak jatuh dalam kekeringan teoritis, tetapi juga tidak kehilangan kedalaman analitis.

Ini adalah kualitas langka. Banyak akademisi mampu berpikir dalam, tetapi tidak semua mampu menulis dengan cara yang menghidupkan pikiran pembacanya. Dalam konteks ini, pengalaman panjang dan latar akademik sang penulis menjadi faktor pembeda yang signifikan.

Namun, lebih jauh dari itu semua, momentum tulisan ini sesungguhnya bersandar pada konteks sosial yang sedang kita hadapi. Bara di Banemo dan Sibenpopo—apa pun bentuk dan latar konflik yang menyertainya—bukan sekadar peristiwa lokal.

Ia adalah representasi dari rapuhnya relasi sosial yang sewaktu-waktu dapat retak jika tidak dirawat dengan kesadaran kolektif.

Di sinilah relevansi pesan perdamaian dalam tulisan tersebut menjadi krusial. Perdamaian bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan proses aktif membangun kepercayaan, empati, dan karakter manusia. Seperti yang disinggung dalam salah satu komentar netizen yang justru paling substantif: “pembangunan manusia jauh lebih penting daripada pembangunan infrastruktur.”

Ini sejalan dengan pandangan Amartya Sen tentang “development as freedom,” bahwa pembangunan sejati adalah ketika manusia memiliki kapasitas untuk hidup secara bermartabat, bebas dari ketakutan dan kekerasan.

***

Dr.Guntur Alting tidak sekedar menulis cantik tetapi juga produktif. Sejak bertemu dipanggung redaksi dengan beliau setahun terakhir, nyaris 60 artikel yang telah beliau telorkan yang diterbitkan dua media yang saya kelola yakni Pikiran Ummat dan Mindset Ummat.

Termasuk artikel “BARA DI BANEMO DAN SIBENPOPO” ini akan kami terbitkan dalam bentuk buku dan Buku Sosio -Puasa, Jejak artikel beliau di Rubrik : Sosio -Puasa.

                     ***

Sedikit profil, M.Guntur Alting adalah putra ori alias asli Maluku Utara asal Mareku Tidore. yang saat ini menetap di Jakarta. Beliau adalah penulis atau kolomnis tetap dan andalan media online Pikiran Ummat dan Mindset Ummat.

Eksistensi jebolan Magister Sosiologi di Austalia sebagai kolomnis di media ini sejak pilkada 2024 telah memberi warna tersendiri spesial buat dua media yang saya dirikan dan kelola serta teristimewa bagi puluhan ribu khalayak pembaca media pikiran ummat dan media Mindset Umm

Dr. Guntur Alting memang beda : sosok yang haus ilmu, mengejar gelar akademik hingga Doktoral bukan untuk pangkat dan jabatan.

Masih terngiang di kepala saya ketika ngobrol santai di salah satu Cafe di Hotel Bidakara Jakarta Selatan, beliau sempat mengungkapkan niatnya untuk melanjutkan kuliah lagi, seolah masih gelisah dengan kapasitas keilmuan ditengah gelar Doktor yang ia sandang.

       ***

Penutup : viralnya tulisan ini seharusnya tidak berhenti sebagai “euforia digital.”– Ia harus menjadi pintu masuk menuju refleksi yang lebih dalam. Sebab di balik keindahan prosa yang memikat itu, tersimpan peringatan yang serius: bahwa konflik tidak pernah benar-benar padam, ia hanya menunggu ruang untuk menyala kembali—kecuali jika manusia sebagai subjek utama pembangunan benar-benar dibentuk dengan nilai-nilai damai.

Akhirnya, mungkin kita perlu membaca ulang—bukan hanya dengan mata, tetapi dengan kesadaran. Karena bisa jadi, yang viral bukan sekadar tulisannya, melainkan kegelisahan yang diam-diam kita semua rasakan, tetapi jarang kita akui. (***)

Di Ruang Edelweis, Rumah Sakit Dharma Ibu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *