banner 728x250

PRAJURIT TNI DI LEBANON, OBJEKTIF ISRAEL, DAN BOP

Smith Alhadar : Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES); Penasihat Institute for Democracy Education (IDe)

Indonesia berduka. Dalam dua hari berturut-turut (29-30 Maret), tiga prajurit TNI – Praka Farizal Rhomadon, Kapten (Inf) Zulmi Aditya, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan — yang bertugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) gugur. Pasukan penjaga perdamaian PBB ini mulai bertugas di wilayah demarkasi antara Israel dan Lebanon sejak 1978. Pelakunya adalah militer Israel (IDF) yang sedang melakukan serangan darat untuk menduduki Lebanon Selatan, basis Hezbullah, secara permanen.

Lebanon selatan berada di antara perbatasan utara Israel hingga Sungai Litani di Lebanon sepanjang 30 km. Objektif Israel adalah mengamankan teritorinya bagian utara yang menjadi target utama serangan rudal dan drone Hezbollah. Setelah perang berulang kali antara Israel dan Hezbollah, pada 2006 keduanya melakukan gencatan senjata setelah perang 35 hari yang memakan korban besar di pihak IDF. Perang pecah kembali pada 8 Oktober 2023, sehari setelah Hamas berhasil melancarkan serangan dadakan ke Israel selatan.

Dalam perang ini Hezbollah cukup terpukul setelah pemimpin kharismatiknya, Hassan Nasrullah bersama para pemimpin lainnya, tewas. Mediator AS dan Perancis menekan keduanya meneken perjanjian gencatan senjata (November 2024). Sesuai syarat perjanjian, Hezbollah menarik diri dari Lebanon selatan. Tapi Israel tak mematuhi kewajibannya. IDF mempertahankan keberadaannya di lima titik strategis di teritori Lebanon itu sambil melancarkan serangan tak henti terhadap desa dan kota di Lebanon, bahkan sampai Beirut.

Kendati Israel melanggar perjanjian, AS mendiamkannya. Melalui permintaan Israel, AS membuat perjanjian terpisah dengan pemerintahan Lebanon di bawah Presiden Joseph Aoun. Dalam perjanjian ini Aoun berjanji akan melucuti Hezbollah sebagai imbalan AS membantu ekonomi dan persenjataan pemerintahan Lebanon. Aoun tak mampu melakukan tugasnya karena Israel masih terus membombardir Lebanon. Selain sebagai kekuatan bersenjata, Hezbollah adalah parpol yang punya pengaruh besar.
​Selama lebih dari setahun pemboman Israel, Hezbollah hanya membalas sekali. Tapi pada hari ketiga kematian pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei (2 Maret), Hezbollah melancarkan perang skala besar ke Israel. Di luar dugaan Israel, Hezbollah masih memiliki rudal mematikan yang membanjiri Israel utara, bahkan sampai ke Israel tengah.

Sementara serangan darat IDF menemui perlawanan sengit dari Hezbollah. Prajurit IDF berguguran, beberapa tank mirkava hancur, situs strategis IDF dan infrastruktur Israel hangus terbakar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *