banner 728x250

TANGGAL TUA PASCA LEBARAN, KRISIS FINANSIAL DI BALIK EFORIA HARI RAYA

Oleh : Ismail Ibrahim, M.Sos/ Alumni S-2 Universitas Jenderal Sudirman

Fenomena “tanggal tua” pasca Lebaran dapat dipahami sebagai realitas sosial yang mengalami pergeseran makna dalam kehidupan sosial.

Dahulu momentum Pasca Lebaran dimaknai sebagai ruang untuk mempererat tali silaturahmi, dan memperkuat hubungan kekeluargaan, sahabat,krabat guna merekatkan kembali relasi sosial, serta solidatitas.

Dalam Silaturahmi bukan hanya sekedar menjadi rutinitas di Pasca Lebaran namun dibalik itu ada makna dan nilai religius tersendiri yang termaktub dalam momentum di hari raya Idul fitri orang-orang saling menyapa penuh dengan keikhlasan.

Namun perkambangan masyarakat modern, mengalami transformasi aktivitas silaturahmi yang dahulu berorientasi pada nilai-nilai emosional serta spiritual.

Kini diganti dengan beban ekonomi yang cukup besar untuk pengeluargan kebutuhan lebaran- seperti konsumsi, pakian dll.

Namun uniknya tradisi Paca lebaran kali ini dalam aspek sosiologi munculnya ekspektasi untuk tampil layak berbagai rezeki (THR), kepada keluarga serta menyajikan hidangan para tamu.

Dalam konteks ini konsumsi didorong oleh kebutuhan dan tekanan kultur di era modern sehingga orang mengalokasikan pengeluran demi momen Paca Lebaran.

Secara sosiologis ini menunjukkan nilai-nilai kebersamaan serta gengsi sosial yang mempengaruhi rasionalitas ekonimi individu.

Meskipun demikian, fenomena “Tanggal Tua” tidak sepenuhnya bernilai negatif hal ini juga menjadi refleksi sosial untuk masyarakat agar kembali menata makna Lebaran lebih bijak, karena esensi dari pada lebaran bukan terletak pada seberapa sebar pengeluaran.

Kondisi ini dapat diidentikkan dengan krisis finansial sementara.

Dalam perspektif sosiologis, fenomena ini dilihat sebagai bentuk disorientasi nilai, di mana praktik sosial masih dijalankan tetapi makna yang terkandung di dalamnya sudah mulai berubah.

Selain itu, kualitas hubungan sosial yang telah dibangun sejak bertahun-tahun, karena makna momentum pasca Lebaran adalah masyarakat dapat mengembalikan nilai silaturahmi pada hakikatnya secara sederhana, kini beralih kepada finansial.

Seharusnya Silaturahmi menjadi sarana memperkuat kohesi sosial, justru berubah menjadi tuntutan gaya hidup sosial yang berkembang di lingkungan masyarakat dan membawa nuansa serta citra baru; hal ini mencerminkan adanya pengaruh modernisasi dan budaya konsumtif yang secara perlahan menggeser esensi tradisi.

Fenomena “tanggal tua” pasca Lebaran, menurut saya, bukan sekadar persoalan keuangan biasa, melainkan cerminan dari cara masyarakat mengelola antara kebutuhan dan keinginan.

Ketidakseimbangan antara pendapatan tetap dan lonjakan pengeluaran saat Lebaran menunjukkan bahwa banyak orang masih terjebak dalam pola konsumsi yang tidak terkendali, dan menariknya kondisi ini tidak hanya dialami oleh kelompok ekonomi bawah, tetapi juga kelas menengah yang terdorong menjaga citra sosial melalui konsumsi berlebih.

Dalam pandangan saya, perkembangan digitalisasi seperti e-wallet dan paylater justru memperparah keadaan karena membuat batas antara kemampuan nyata dan dorongan konsumsi menjadi semakin kabur, sehingga masalah tidak lagi sebatas kehabisan uang tunai, tetapi juga bertambahnya beban finansial di masa depan.

Dari sisi budaya, perilaku konsumsi saat Lebaran tidak sepenuhnya merupakan pilihan individu, melainkan dipengaruhi oleh makna simbolik, tekanan sosial, dan standar tidak tertulis dalam masyarakat, sehingga pola ini terus berulang setiap tahun.

Fenomena ini selaras dengan pemikiran George Herbert Mead dan Herbert Blumer tentang makna simbolik, serta Thorstein Veblen yang melihat konsumsi sebagai simbol status yang telah menjadi kebiasaan mengakar.

Oleh karena itu, perlu ditelisik lebih dalam bahwa proses “Tanggal Tua” pasca Lebaran bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan hasil dari interaksi antara budaya dan struktur sosial, sehingga upaya yang diperlukan tidak hanya berfokus pada peningkatan literasi keuangan, tetapi juga pada penataan ulang cara memaknai Lebaran agar tetap sederhana tanpa menghilangkan nilai kebersamaan sebagai inti utamanya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *