banner 728x250

Sosio-Puasa | Hari Ke-8/9 : MAKHLUK PERGI-PULANG

Oleh : M.Guntur Alting

Dalam diskursus sosiologi ruang dan agama, manusia sering kali didefinisikan melalui mobilitasnya yakni, pergi dan pulang.

Di Maluku Utara, sebuah provinsi kepulauan yang secara historis terbentuk dari pergerakan perdagangan rempah.

Fenomena “Manusia Makhluk Pergi Pulang” mencapai puncaknya pada bulan Ramadan.

Fenomena ini bukan sekadar migrasi musiman atau tradisi mudik biasa. Ia adalah sebuah dialektika antara eksistensi ekonomi (pergi) dan esensi spiritual-kultural (pulang).

–000–

Pergi: Tuntutan Ruang dan Urgensi Ekonomi

Secara geografis, Maluku Utara adalah konstelasi pulau yang menciptakan pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar (fragmentasi ruang).

Masyarakat dari pulau-pulau penyangga seperti Halmahera, Mandioli, hingga Makian, “pergi” menuju pusat gravitasi ekonomi—seperti Ternate, Sofifi, atau kawasan industri tambang di Weda dan Obi—untuk mencari penghidupan.

Dalam perspektif ilmiah, fase “pergi” ini merepresentasikan mobilitas sirkuler.

Selama Ramadan, para pekerja ini berada dalam ketegangan antara kewajiban profesional di tanah perantauan dan dorongan psikologis untuk kembali.

Pergi adalah simbol perjuangan manusia sebagai “Homo Economicus”, di mana mereka menukar jarak dan waktu demi kesejahteraan keluarga di kampung halaman.

–000–

Pulang: Rekonstruksi Identitas dan Kohesi Sosial

“Pulang” dalam konteks Maluku Utara di bulan puasa memiliki tiga dimensi utama yang saling berkelindan:

Pertama, Dimensi Sosiologis :The Return to Roots

Pulang adalah mekanisme pertahanan budaya. Di tengah arus modernisasi di kota-kota besar, kembali ke kampung halaman di Maluku Utara saat Lebaran adalah upaya menegaskan kembali identitas “kimalaha” atau kekeluargaan yang erat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *