banner 728x250

Sosio-Puasa | Hari Ke- 6/7 : MENELAN PAHIT DI NEGERI REMPAH

Sudah saatnya Maluku Utara berhenti menengadah dan mulai menunduk ke tanahnya sendiri.

Halmahera, dengan hamparan buminya yang subur, adalah raksasa tidur yang harus dibangunkan. Transformasi dari daerah pengimpor menjadi daerah produsen bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

Membangun “lumbung pangan” di daratan Halmahera bukan hanya soal menanam cabai atau tomat, tapi soal menanam kedaulatan.

–000–

Kita juga memerlukan teknologi sebagai penjaga. Di daerah kepulauan ini, musuh utama kita adalah waktu dan pembusukan.

Pembangunan gudang-gudang pendingin (cold storage) di setiap pelabuhan utama akan menjadi “benteng” yang menjaga stok tetap aman saat gelombang laut meninggi.

Dengan cadangan yang terjaga, para spekulan tak akan lagi punya celah untuk memainkan nasib perut orang banyak.

Lebih jauh lagi, ada kekuatan besar yang selama ini terabaikan yakni sinergi.

Perusahaan-perusahaan tambang yang mengeruk kekayaan nikel di bumi Maluku Utara harus diajak—atau dipaksa melalui regulasi—untuk menghidupkan sektor pertanian.

Jika katering ribuan karyawan tambang bersumber dari petani lokal di sekitarnya, maka ekonomi akan berputar di rumah kita sendiri, bukan mengalir keluar.

–000–

Pada akhirnya, solusi ini adalah sebuah simfoni atau nyanyia, Ia membutuhkan ketegasan pengawasan untuk membasmi penimbun.

Kecerdasan petani untuk mengolah lahan, dan kemauan politik untuk membangun infrastruktur.

Jika langkah-langkah ini dijalankan dengan hati, maka Ramadan di masa depan tak lagi menjadi horor atau teror harga yang menghantui, melainkan benar-benar menjadi bulan kemenangan.

Kemenangan spiritual bagi jiwa, dan kemenangan kedaulatan bagi meja makan setiap keluarga di Maluku Utara, Wallahu A’lam (***)

Pejaten, Selasa 24 Februari 2026
Pukul : 01.10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *