Dampak Sosial di Bulan Suci : Secara sosiologis.
Ramadan adalah waktu di mana konsumsi rumah tangga meningkat secara alami karena tradisi buka puasa bersama dan persiapan Idul-fitri.
Lonjakan harga menciptakan kontradiksi; di satu sisi masyarakat didorong untuk meningkatkan ibadah dan sedekah, namun di sisi lain mereka terhimpit oleh beban ekonomi yang kian berat.
Kekhawatiran publik kian memuncak ketika komoditas lokal yang seharusnya terjangkau justru ikut terkerek naik mengikuti arus inflasi nasional.
Hal ini memicu sentimen negatif terhadap pengawasan pasar. Masyarakat mulai mempertanyakan efektivitas Satgas Pangan dan peran pemerintah daerah dalam melakukan intervensi pasar yang nyata, bukan sekadar seremonial “Gerakan Pangan Murah” yang jangkauannya seringkali terbatas.
.–000–
Merajut Kedaulatan di Tanah Rempah: Sebuah Jalan Keluar
Menyaksikan harga pangan yang melambung di pasar-pasar tradisional Maluku Utara setiap kali Ramadan tiba, adalah seperti melihat luka lama yang sengaja dibiarkan terbuka.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara di bawah kepemimpinan baru menghadapi tantangan besar untuk membuktikan bahwa mereka hadir di tengah pasar.
Kita tahu penyebabnya, kita merasakan perihnya, namun selama ini kita hanya sibuk membalutnya dengan plester sementara.
Padahal, untuk menyembuhkannya, kita butuh keberanian untuk membedah masalah hingga ke akarnya.
–000–
Langkah pertama harus dimulai dari tangan pemerintah yang tegas.
Di tengah badai harga, kehadiran negara tidak boleh hanya sekadar seremoni pasar murah yang habis dalam sekejap.
Harus ada intervensi nyata melalui subsidi transportasi. Bayangkan jika pemerintah menjamin biaya angkut logistik dari pelabuhan asal, maka beban yang dipikul para pedagang akan berkurang, dan harga di meja pasar tak perlu lagi mencekik leher rakyat.
Inilah jembatan pendek untuk menyeberangi krisis yang mendesak.
Namun, kita tidak bisa terus-menerus bergantung pada belas kasihan cuaca dan kepastian kapal dari seberang lautan.
















