Ada jurang yang menganga lebar: triliunan rupiah nikel dikeruk dari perut bumi Halmahera. Namun untuk urusan cabai dan bawang, rakyatnya masih harus menengadah ke kapal-kapal dari Manado dan Makassar.
–000–
Ramadan 1447 Hijriah kali ini terasa lebih “pedas” dari biasanya. Di saat baliho-baliho pejabat menebar senyum lebar dengan ucapan selamat ibadah, ibu-ibu di pasar justru sedang berperang dengan logika.
Bagaimana mungkin harga “rica” meroket hingga seratus ribu rupiah per kilo di sebuah daerah yang tanahnya konon begitu subur?
Operasi pasar dan “Gerakan Pangan Murah” yang digadang-gadang pemerintah daerah seringkali terasa seperti obat penenang sementara (plasebo).
Sementara antrean panjang mengular hanya untuk selisih harga beberapa ribu rupiah, yang habis tertelan biaya transportasi menuju lokasi pasar murah itu sendiri.
Ketergantungan pasokan adalah luka lama yang tak kunjung dijahit.
Ketika ombak di perairan Maluku meninggi, harga-harga di pasar ikut “mabuk laut”. Inilah ironi di Negeri Para Raja.
Kita memiliki kedaulatan atas laut yang luas, namun kedaulatan atas harga pangan di pasar tradisional kita sendiri seolah-olah digadaikan pada cuaca dan perantara.
Ramadan seharusnya menjadi waktu untuk refleksi spiritual, bukan refleksi atas ketimpangan ekonomi yang kian menelanjangi ketidakberdayaan rakyat kecil di tengah hiruk-pikuk eksploitasi sumber daya alam.
–000-
Akar Masalah yang Berlapis
Kenaikan harga ini dipicu oleh simpul masalah yang kompleks :
Pertama: adalah ketergantungan pasokan.
Meskipun Maluku Utara kaya akan hasil laut dan rempah, sebagian besar kebutuhan sayur-mayur dan sembako masih didatangkan dari luar daerah, seperti Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.
Rantai distribusi yang panjang ini, sangat rentan terhadap gangguan cuaca ekstrem di perairan Maluku yang kerap memaksa kapal-kapal logistik tertahan di dermaga.
Kedua, adanya disparitas harga antar wilayah.
Di daerah kepulauan yang lebih jauh, harga bisa melonjak dua kali lipat dibandingkan di pusat kota.
Infrastruktur logistik yang belum merata menjadikan biaya angkut sebagai beban tambahan yang akhirnya harus dibayar oleh konsumen akhir—rakyat kecil.
–000–
















