banner 728x250

Sosio-Puasa | Hari : 5/6 : DARI ALGORITMA LANGIT KE ALGORITMA DIGITAL

  • Sebuah Dialektika Takwa dan Algoritma

Oleh : M.Guntur Alting

Di ruang hampa antara nol dan satu. Nasib kita dirajut oleh jempol yang gelisah.

Algoritma adalah nabi baru yang tak pernah tidur. Ia tahu apa yang kau benci sebelum kau marah. Ia tahu apa yang kau rindu sebelum kau terjaga.

Kita adalah baris kode dalam “database” raksasa. Disuapi konten yang membuat ego merasa berkuasa.

“Inilah duniamu, bisik layar yang berpendar blue-light. “Hanya yang kau sukai yang boleh melintas di sini.”

Maka fanatisme tumbuh subur di ladang “feedback loop,”.Dan kebenaran hanyalah apa yang paling banyak diklik.

Namun di kedalaman dada yang sunyi. Ada getaran yang tak bisa dibaca oleh “cookies”.
Takwa bukan tentang seberapa viral doamu,
Bukan tentang estetika sujud di kolom “feed” yang semu.

Takwa adalah kesadaran akan “Pengawas Utama, Yang pandangan-Nya menembus enkripsi paling rahasia. Ia adalah kemampuan untuk berkata “tidak” pada tren.Saat algoritma menggiringmu menuju lembah caci maki.

Ia adalah rasa takut yang menyelamatkan.
Agar jempolmu tak menjadi pedang yang menebas kehormatan. Maka, biarlah algoritma mengatur rute jalanmu.Tapi jangan biarkan ia mendikte rute hatimu.

Di akhir hari, saat layar dipadamkan..Bukan jumlah “follower” yang akan memberi kesaksian.

Hanya ketakwaan—titik cahaya yang tulus itu— Yang akan tetap menyala, saat semua server runtuh membatu.

Demikian sebuah puisi esai tentang taqwa dan algoritma.

–000–

Mari kita bedah lebih jauh dalam kacamata teori sosiologi dalam narasi berikut ini.

Ramadan, secara tradisional, dipahami sebagai momentum “asketisme”—sebuah periode di mana individu menarik diri dari hiruk-pikuk duniawi untuk menuju kedalaman spiritual.

Namun, di bawah dominasi teknologi informasi, esensi “penarikan diri” tersebut mengalami paradoks.

Sosiologi melihat bahwa Ramadan kini tidak lagi sekadar ritual teologis, melainkan telah bertransformasi menjadi fenomena sosiokultural digital.

Dramaturgi Kesalehan: Panggung Depan yang Estetis

Mengacu pada teori Dramaturgi Erving Goffman, media sosial telah menjadi “panggung depan” (front stage) yang paling dominan bagi umat Muslim modern.

Di panggung ini, individu melakukan manajemen impresi dengan sangat rapi.

Konten mengenai kegiatan sedekah, foto aesthetic saat tadarus, hingga dokumentasi buka bersama bukan sekadar berbagi informasi, melainkan upaya pembangunan identitas religius.

Ada tuntutan sosial untuk terlihat shaleh secara visual, yang terkadang membuat substansi ibadah itu sendiri tergeser oleh upaya mengurasi konten agar sesuai dengan standar estetika platform.

Komodifikasi Agama dalam Ruang Konsumsi

Secara sosiologis, Ramadan di media sosial juga mencerminkan kapitalisme lanjut.

Simbol-simbol agama mengalami komodifikasi; agama tidak lagi hanya dipraktikkan, tetapi juga “dikonsumsi”.

Para influencer dan brand memanfaatkan momentum ini untuk menciptakan tren, mulai dari gaya hijab hingga menu takjil yang viral.

Hal ini menciptakan apa yang disebut sebagai Komunitas Imajer, di mana rasa kebersamaan umat tidak lagi dibangun di atas interaksi fisik di masjid, melainkan melalui konsumsi simbol-simbol yang sama di lini masa.

Simulakra: Antara Realitas dan Citra

Meminjam pemikiran Jean Baudrillard, kita seringkali terjebak dalam simulakra.

Terkadang, citra tentang Ramadan di media sosial terasa “lebih nyata” daripada pengalaman Ramadan itu sendiri.

Semisal, kehangatan buka puasa bersama yang diunggah ke Instagram mungkin tampak sempurna dengan tawa yang tertangkap kamera. Padahal di realitasnya, setiap orang di meja tersebut lebih sibuk berinteraksi dengan ponsel masing-masing.

Di sini, hiperrealitas tercipta. Kita lebih mencintai citra kebersamaan yang kita unggah daripada kebersamaan itu sendiri.

Pergeseran Otoritas Keagamaan

Media sosial juga mendemokratisasi, sekaligus mendisrupsi—otoritas keagamaan.

Dulu, sumber ilmu adalah kiai atau ulama di pesantren. Kini, algoritma berperan sebagai penentu pesan keagamaan apa yang sampai ke gawai kita.

Sosiologi melihat adanya pergeseran dari otoritas tradisional ke otoritas karismatik digital, di mana “kebenaran” agama seringkali diukur dari jumlah pengikut atau gaya penyampaian yang “relatable” dengan budaya pop.

–000–

Ramadhan di era media sosial adalah sebuah medan dialektika. Di satu sisi, teknologi mempermudah syiar dan memperluas jangkauan solidaritas global.

Namun di sisi lain, ia menantang kita untuk tetap menjaga otentisitas spiritual di tengah tekanan untuk terus tampil secara visual.

Tantangan sosiologis kita hari ini adalah bagaimana tetap “hadir” secara batin di saat kita secara digital terus-menerus “terkoneksi”
Wallahu a’lam (***)

Pejaten Barat, Senin, 23 Februari 2026
Pukul : 01.10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *