Oleh : M.Guntur Alting
Di antara kepungan gedung tinggi dan deru mesin yang tak pernah lelah.
Jakarta melipat waktu dalam secangkir “latte” dan pendar layar. Tak ada lagi debu pasar kaget atau keriuhan bocah di gang sempit.
Kini, doa-doa menunggu di atas meja kayu yang dipelitur rapi. Di bawah lampu gantung yang berpendar kuning temaram.
Sebuah notifikasi menjadi penanda lebih dulu dari azan. Tangan-tangan sibuk menata piring, bukan demi suapan pertama. Melainkan demi sudut gambar yang sempurna di panggung digital.
Kita adalah penunggu yang gelisah. Mencari takwa di antara status sosial dan rasa haus yang tertahan.
Ini bukan sekadar tentang membatalkan lapar. Ini adalah ritual baru di ruang ketiga. Di mana kesalehan dan gaya hidup berdansa. Dalam dialektika yang tak kunjung usai.
–000–
Fenomena menunggu waktu berbuka puasa, atau “ngabuburit,” telah mengalami transformasi sosiologis yang signifikan di kota megapolitan seperti Jakarta.
Jika dahulu, ritual ini identik dengan jalan-jalan sore di sekitar lingkungan rumah atau berburu takjil di pasar kaget, kini kafe-kafe di pusat bisnis dan gaya hidup telah menjadi lokus utama bagi masyarakat urban.
Secara sosiologis, fenomena ini bukan sekadar perpindahan ruang fisik, melainkan manifestasi dari pergeseran struktur sosial, pola konsumsi, dan pencarian identitas masyarakat modern.
–000–
Dramaturgi dan Pengelolaan Kesan
Salah satu kacamata yang paling relevan untuk membedah fenomena ini adalah teori Dramaturgi dari Erving Goffman.
Dalam perspektif ini, kafe di Jakarta berfungsi sebagai “panggung depan” (front stage).
Individu yang datang tidak hanya membawa rasa lapar, tetapi juga membawa identitas yang telah dikonstruksi sedemikian rupa.
Pilihan kafe, cara berpakaian, hingga bagaimana mereka menata meja sebelum azan Maghrib berkumandang adalah bagian dari impression management (pengelolaan kesan).
Tujuannya jelas: menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari kelas masyarakat yang mapan secara ekonomi, namun tetap memegang teguh nilai religiusitas.
–000–
Nilai Tanda dan Hiperrealitas
Lebih jauh lagi, pemikiran Jean Baudrillard mengenai masyarakat konsumsi memberikan kritik tajam terhadap fenomena ini.
Di kafe-kafe Jakarta, yang dikonsumsi bukan lagi sekadar kopi atau hidangan berbuka, melainkan “nilai tanda”.
Seseorang mungkin rela membayar berkali-kali lipat untuk seporsi makanan yang sama di tempat lain demi estetika yang Instagrammable.
Di sini, realitas berbuka puasa sering kali terjebak dalam kondisi hiperrealitas; momen ibadah dan kebersamaan fisik terkadang kalah penting dibandingkan representasi digitalnya di media sosial.
–000–
Ruang Ketiga dan Rasionalitas Instrumental
Namun, tidak adil jika kita hanya melihat fenomena ini dari sisi konsumerisme belaka.
Secara fungsional, kafe di Jakarta juga menjadi apa yang disebut Ray Oldenburg sebagai “The Third Place” (Ruang Ketiga).
Di tengah kepungan ruang pertama (rumah) dan ruang kedua (kantor), kafe menawarkan netralitas. Bagi pekerja Jakarta yang terhimpit kemacetan.
Singgah di kafe sebelum berbuka adalah tindakan rasionalitas instrumental (Max Weber). Daripada menghabiskan waktu di tengah kemacetan yang tidak produktif.
Mereka memilih kafe sebagai ruang transisi yang menyediakan fasilitas ibadah sekaligus kenyamanan sosial.
–000–
Solidaritas Organik di Tengah Modernitas
Secara kolektif, fenomena ini mencerminkan Solidaritas Organik (Emile Durkheim) dalam masyarakat modern.
Meskipun individu di dalam kafe tersebut mungkin tidak saling mengenal dan memiliki latar belakang yang sangat terspesialisasi, mereka disatukan oleh kesadaran kolektif ritual keagamaan.
Ada rasa aman dan kebersamaan yang dirasakan saat melihat sekeliling mereka melakukan hal yang sama: menunggu, berdoa, dan berbuka secara serempak.
–000–
Fenomena ngabuburit di kafe Jakarta adalah potret kompleksitas manusia urban—titik temu antara kewajiban religius, tuntutan gaya hidup, dan kebutuhan akan ruang pelarian dari penatnya kota.
Kafe bukan lagi sekadar tempat makan, melainkan laboratorium sosiologis di mana status sosial, identitas digital, dan kesalehan ritual berkelindan secara dinamis (***)
Bangi Kafe Kalibata, 4 Maret 2026
Pukul : 19.07a,
















