banner 728x250

Sosio-Puasa | Hari -10/11 : BEDA RAKAAT, SATU BERKAT

Tak ada telunjuk yang menuding, tak ada mata yang sinis. Sebab mereka tahu, di atas tanah para raja ini.Tuhan tidak sedang menghitung angka. Melainkan menimbang ketulusan

–000–

Ramadan di Maluku Utara selalu memiliki aroma khas; perpaduan antara religiusitas yang kental dan penghormatan terhadap tradisi Kesultanan yang luhur.

Namun, di balik kekhusyuan syiar di masjid-masjid Ternate, Tidore, hingga Halmahera.Terdapat sebuah fenomena “sosioreligius” yang menarik untuk ditelaah: pergeseran perlahan namun pasti dari format salat Tarawih 23 rakaat menuju 11 rakaat.

Fenomena ini bukan sekadar perdebatan teknis jumlah sujud, melainkan cermin dari dinamika pemikiran umat Islam di Maluku Utara dalam merespons arus modernitas dan puritanisme agama.

Akar Tradisi dan Hegemoni 23 Rakaat

Secara historis, masyarakat Maluku Utara adalah penjaga gawang tradisi Syafi’iyah yang sangat kuat.

Format 23 rakaat (20 Tarawih + 3 Witir) telah menjadi standar baku selama berabad-abad, selaras dengan protokoler keagamaan di Kesultanan (Kie Raha).

Bagi masyarakat tradisional, 23 rakaat adalah simbol ketaatan pada ijma (konsensus) ulama terdahulu dan manifestasi dari semangat “memaksimalkan” ibadah di bulan suci.

Di masjid-masjid tua dan pusat-pusat adat, jumlah ini dianggap sebagai identitas kultural.

Mengurangi rakaat bagi sebagian orang tua di sana, sempat dianggap sebagai “pengurangan” terhadap nilai keberkahan yang telah diwariskan turun-temurun.

–000–

Arus Perubahan: Efisiensi dan Autentisitas

Namun, dalam dua dekade terakhir, lanskap ini mulai berubah. Munculnya format 11 rakaat di Maluku Utara didorong oleh dua faktor utama: akademis-teologis dan sosiologis-urban.

Pendekatan Tekstual:

Melalui institusi pendidikan dan gerakan dakwah modernis, narasi mengenai hadis riwayat Aisyah r.a. tentang 11 rakaat Nabi Muhammad SAW mulai meresap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *