banner 728x250

Sosio-Puasa | Hari -10/11 : BEDA RAKAAT, SATU BERKAT

  • Jejak Dialektika Shalat Tarawih di Bumi Para Sultan

Oleh: M.Guntur Alting

Kemarin malam, pukul 12.10 waktu Jakarta, sebuah notifikasi WatshAp masuk dari Bos Pemred Pikiran Ummat, Pak Usman Sergie.

“Pak Guntur, tolong tulis juga dong tentang Kontestasi 23 dan 11 rakaat di Maluku Utara !”–Demikian yang terbaca di layar handphone.

Saya sempat tertegun.
“Andaikata saja bisa ya..” jawab saya singkat. “Tapi saya akan coba Pak Us ” lanjut saya. Maka lahirlah esai ini. Mari simak narasinya.

Dahulu, dua puluh tiga rakaat adalah pagar yang tak boleh retak.

Ia adalah sebuah nafas panjang. Di mana dahi menyentuh lantai dingin berkali-kali, menjemput berkah yang diyakini mengalir dari silsilah para wali.

Namun waktu adalah penenun yang tak pernah lelah. Di Ternate, di Sofifi, hingga pesisir Halmahera yang jauh.

Lampu-lampu kota mulai menyala lebih terang dari lampu minyak. Generasi baru datang membawa kitab dan tanya.Tentang sebelas rakaat yang konon lebih dekat ke asal muasal.

Tentang “thumaninah” yang dicari di sela hiruk pikuk pekerjaan. Tentang efisiensi bagi raga yang esok harus kembali melaut atau beradu di meja birokrasi.

Dulu, perbedaan ini adalah badai dalam tempurung. Lidah tajam saling menghujat di mimbar-mimbar.

“Kurang rakaat, kurang berkat!” seru yang tua.

“Kembali ke sunnah!” jawab yang muda dengan mata berpendar.

Namun di Bumi Al-Mulk, kebijaksanaan setua pohon cengkih. Perlahan, ego meluruh bersama azan yang membelah malam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *