banner 728x250

SARUMA DALAM SATU AYUNAN DAYUNG

  • Menenun Harapan di Halmahera Selatan

Oleh : Usman Sergie/Pimred

Di bawah langit Halmahera Selatan yang luas, di mana gugusan pulau-pulau berdiri seperti zamrud yang dipeluk samudera, sebuah narasi baru sedang ditulis.

Pembangunan, yang selama ini sering kali hanya dipahami sebagai deretan angka di atas kertas laporan atau tumpukan semen dan baja di pinggir jalan, kini sedang dicarikan ruhnya kembali.

Melalui ajakan Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba, pembangunan di Bumi Saruma sedang diarahkan menjadi sebuah kerja kebudayaan—sebuah ajakan untuk pulang pada hakikat bahwa daerah ini adalah milik bersama.

–000–

Seorang pemimpin, betapa pun besarnya kuasa yang ia genggam, sejatinya hanyalah seorang nakhoda di atas kapal besar bernama daerah.

Namun, kapal tidak akan pernah sampai ke tepian harapan hanya dengan perintah sang kapten.

Ia membutuhkan mesin yang tangguh, layar yang terkembang sempurna, dan awak kapal yang saling percaya.

Dalam refleksi Dr. Muammil Sunan, mesin penggerak itu adalah masyarakat. Tanpa keterlibatan warga, pembangunan hanyalah sebuah monumen bisu yang tak memiliki nyawa; ia ada, tapi tidak dirasakan kehadirannya oleh hati rakyatnya.

Ajakan Bupati Bassam bukan sekadar basa-basi politik di atas podium.

Ada pesan sosiologis yang mendalam di sana: sebuah pengakuan bahwa pemerintah tidak memiliki mata di setiap sudut desa, tidak pula memiliki telinga di setiap gang-gang kecil pemukiman nelayan atau petani.

Dengan membuka pintu partisipasi, pemerintah sedang mencoba memperkecil jarak antara “apa yang direncanakan” dan “apa yang dibutuhkan”.

Inilah kunci dari kebijakan yang presisi; sebuah langkah untuk memastikan bahwa tidak ada lagi proyek yang mangkrak atau gedung-gedung megah yang menjadi “hantu” karena tidak sesuai dengan detak jantung kebutuhan warga.

–000–

Di mata seorang akademisi seperti Muammil, kepemimpinan adalah kemampuan untuk menerjemahkan visi menjadi realitas.

Visi Bupati Bassam untuk membawa Halmahera Selatan menuju kemajuan dan kesejahteraan hanya akan mewujud jika rakyat tidak lagi diposisikan sebagai objek yang sekadar menerima, melainkan sebagai subjek yang ikut menentukan arah.

Ketika seorang petani di pedalaman merasa bahwa suaranya didengar, dan seorang pemuda di pesisir merasa karyanya dihargai, di situlah benih “kepercayaan” tumbuh.

Kepercayaan publik (public trust) inilah pelumas paling mahal yang membuat roda pemerintahan berputar tanpa gesekan yang berarti.

–000–

Kini, tantangan itu telah dilemparkan ke tengah gelanggang.

Pembangunan Halmahera Selatan bukan lagi menjadi beban tunggal yang dipikul di pundak sang Bupati.

Ia telah menjadi undangan terbuka bagi para akademisi untuk menyumbangkan pikirannya, bagi para pemuda untuk menawarkan kreativitasnya, dan bagi seluruh elemen masyarakat untuk memberikan baktinya.

Masa depan Halmahera Selatan tidak sedang menunggu untuk ditemukan; ia sedang dibentuk. Di antara deru mesin kapal dan debur ombak di dermaga Labuha, ada sebuah janji yang sedang dirajut: bahwa kemajuan adalah milik mereka yang mau bergerak dalam satu ayunan dayung yang sama.

Karena pada akhirnya, kesejahteraan sejati bukanlah tentang seberapa banyak infrastruktur yang berdiri, melainkan tentang seberapa dalam rasa memiliki rakyat terhadap tanah airnya sendiri.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *