by ochen/ Moksin Sirfefa
Asyek bin garap* membaca “Maaf Digital”-nya Dr. Guntur Alting. Ini juga masalah yang kita alami deng maitua kalmareng sore.
Kita bilang padia, “capek bales ucapan Idul Fitri dari teman-teman”, khusus tamang-tamang keresteng di Papua.
Maitua bilang, “abang bikin kalimat yang umum saja, biar tinggal kirim ke semua.”
Dia tara tau bahwa kita ini beda di mata orang-orang itu. Kita mencoba menghindari apa yang disebut adinda Doktor Guntur dengan ‘otomatisasi emosi’, karena kita tetap menjaga dong pe kesan pa kita.
Jika kita jawab standar atau copy paste (pake kalimat yang umum/pesan broadcast), pasti dong pe kesan, itu bukan kita. Jadi kita juga harus tetap menjaga image walaupun lala.
Kalu kita jawab asal-asalan pake kalimat standar, emoji atau stiker, pasti dong nilai, mungkin kita lagi ribet, capek, atau bahkan malas untuk bikin kalimat panjang-panjang. Ini yang kita hindari, karena kita terlanjur menjadi icon “lebe” di mata dorang.
–000–
Nah, otentitas citra diri itu penting, sesibuk atau seribet apapun. Terutama kepada pendeta-pendeta yang sering torang bakumalawang mati di grup Spirit of Papua.
Kita tidak sekedar membawa citra diri pribadi tapi lebih dari itu menampilkan sisi misi Islam yang selama ini kita kampanyekan pa dorang. Itu sebabnya balasan wa ucapan hari raya yang dong kirim pa kita, kita sesuaikan dengan pengalaman kita selama ini berinteraksi/berkomunikasi deng dorang.
Jadi kita balas dong pe wa satu per satu dengan penekanan-penekanan yang spesifik. Dengan cara itu, tara sadiki yang kembali balas kita pe wa dengan emoticon terima kasih (🙏🏼) mantap (👍), hormat (🫡), senang(😃).
–000–
Alhamdulillah, teknologi seluler/digital ini telah menjadi “silah” komunikasi yang efektif, meskipun harus disiasati dengan keterlibatan emosi secara timbal-balik.
Karena seperti dibilang adik Guntur, teknologi hanyalah wadah, tergantung torang saja. Mau butul-butul terlibat secara emosional atau sekedar basa-basi.
Kita tara mau harap gampang deng teknologi. Kita harus mau jadi diri sendiri dalam situasi apapun. Capek memang, tapi itu juga untuk menjaga konsistensi kita di ruang fisik dan di ruang maya.
Apakah dorang yang kirim ucapan hari raya itu pake emosi langsung ke kita atau kita hanya menjadi satu dari deretan orang dengan ucapan yang sama secara copy paste (yang berarti tidak ada keterlibatan emosional disana), itu bukan urusan kita.
Kita harus tetap berprasangka baik membalas ucapan mereka dengan menyeleksi, mengidentifikasi si pengirim ucapan, sejauhmana intensitas hubungan pertemanannya dengan kita. Ini yang membuat kita tetap otentik.
Tabea!
Ciputat, 22 Maret 2026.
*Ko Darsis pe carita garap fol😃
















