Kendati RI merupakan importir gas Iran, Jakarta tidak melakukan diplomasi dengan Teheran untuk mengizinkan tankernya diloloskan ke Teluk sebagaimana dilakukan Malaysia. Sejauh ini ada empat negara yang dibolehkan Iran memasuki Selat Hormuz setelah berbicara dengan Iran, yaitu China, India, Pakistan, dan Malaysia. RI lebih memilih negara lain untuk mendapatkan gas ketimbang melakukan diplomasi dengan Iran.
Sikap melawan pemerintahan Prabowo juga ditunjukkan Duta Besar Iran Untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi dengan mengunjungi Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) yang juga Wapres ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla di Markas Pusat PMI, Jakarta, pada 18 Maret. Jusuf Kalla nampak berseberangan dengan Prabowo terkait kebijakan luar negerinya.
Mereka membicarakan tentang kemanusiaan, bagaimana korban rakyat Iran dalam perang dengan AS. JK mengungkapkan PMI akan mengirimkan bantuan obat-obatan sesuai kebutuhan di Iran melalui negara yang dekat dengan Iran, seperti Pakistan dan Turki, atau melalui Bulan Sabit Merah setempat. Bantuan akan dikirim langsung dari Indonesia (KompasTV, 19 Maret).
Tak sampai di situ, pada 1 April, Dubes Iran Boroujerdi bertandang ke Solo, Jawa Tengah, untuk menjumpai Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Mereka bertukar pandangan mengenai perkembangan kawasan, situasi terkini yang timbul akibat perang Iran, serta dampak kemanusiaan dan ekonomi yang ditimbulkannya. Jokowi menyatakan dukungan dirinya dan rakyat Indonesia terhadap keteguhan dan perlawanan pemerintah dan rakyat Iran.
Keteguhan dan perlawanan itu, kata Jokowi, demi kedaulatan nasional, keutuhan wilayah, dan keamanan negara mereka. Jokowi juga menyampaikan harapan akan kesehatan, kemenangan, dan kesejahteraan bagi rakyat Iran, serta agar perdamaian, stabilitas, dan ketenangan segera kembali ke kawasan, sebagaimana tertulis di akun media sosialnya (@Iranindonesia, 1 April).
Sowan Boroujerdi ke Jokowi hanya mengkonfirmasi asumsi publik Indonersia bahwa presiden RI yang sesungguhnya adalah Jokowi, bukan Prabowo. Dan, tidak sebagaimana Prabowo, Jokowi memperlihatkan simpati dan dukungan kepada Iran. Dengan demikian, terungkap lebih jelas bahwa Jokowi kini tak sejalan lagi dengan Prabowo. Apakah dengan demikian, Prabowo akan meninggalkan AS-Israel untuk mendukung Iran-Palestina?
Bagaimanapun, manuver Boroujerdi berpotensi merugikan Iran. Jokowi masih terlilit masalah hukum terkait tuduhan ijazah palsu, populeritasnya anjlok karena kebijakan-kebijakannya yang merusak sendi-sendi bernegara, memanipulasi hukum melalui iparnya di Mahkamah Konstitusi untuk memungkinkan puteranya, Gibran Raka Buming, menjadi wakil presiden.


















