banner 728x250

PADAMNYA MERCUSUAR NALAR

  • Catatan untuk Kepergian Jürgen Habermas (1929–2026)

Oleh: M.Guntur Alting

Di meja kayu yang tua, di Starnberg yang tenang. Lelaki itu meletakkan penanya untuk terakhir kali.

Garis-garis di keningnya adalah peta peradaban,Tempat ia mengeja retakan modernitas yang sunyi.

Ia bukan sekadar profesor yang menghuni menara gading, Ia adalah penjaga nalar yang tak henti berdenting.

Di tengah dunia yang kian bising oleh caci maki, Ia tetap percaya: manusia bisa saling memahami.

“Modernitas adalah proyek yang belum selesai,” ujarnya suatu kali. Sebuah janji pencerahan yang kerap dikhianati oleh tirani.

Ia melihat ruang publik kita kini kian menyempit.Terhimpit oleh pasar yang rakus dan birokrasi yang membelit.

Namun ia tak menyerah pada gelapnya pesimisme, Ia menawarkan cahaya lewat “Tindakan Komunikatif” dan skeptisisme.

Baginya, kebenaran bukan milik siapa yang paling kuat, tapi milik argumen terbaik yang lahir dari debat yang sehat.

Kini, Sang Penjaga Akal Sehat itu telah berpulang, meninggalkan kita di rimba algoritma yang membuat gamang.

–000–

Kita baru saja kehilangan salah satu pemikir paling jernih yang pernah dimiliki sejarah modern, Jürgen Habermas.

Sosok yang dikenal sebagai filsuf terkemuka kelahiran Jerman ini menghembuskan nafas terakhirnya, pada sabtu 14 Maret 2026 kemarin di Starnberg.

Di usia 97 tahun, Sang Penjaga Akal Sehat ini berpulang, meninggalkan kita di tengah carut-marut krisis modernitas yang justru sepanjang hidupnya coba ia urai dengan sabar.

Habermas adalah pewaris terakhir dari Tradisi Teori Kritis (Mazhab Frankfurt).

Namun, berbeda dengan pendahulunya seperti Adorno atau Horkheimer yang cenderung pesimis terhadap masa depan pencerahan, Habermas adalah seorang optimistis yang gigih.

Ia percaya bahwa proyek modernitas belum selesai (unfinished project).

Bagi Habermas, masalah kita bukanlah karena kita terlalu rasional, melainkan karena kita belum menggunakan rasionalitas kita secara utuh.

Salah satu warisan terbesarnya adalah konsep Tindakan Komunikatif.

Di tengah dunia yang didominasi oleh kekuasaan uang dan birokrasi, Habermas mengingatkan kita bahwa manusia memiliki kemampuan unik: berbicara untuk saling memahami.

Ia mengajarkan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat atau siapa yang paling nyaring berteriak, melainkan melalui dialog yang bebas dari dominasi.

Inilah yang ia sebut sebagai Ideal “Speech Situation”—sebuah ruang di mana argumen terbaiklah yang menang, bukan otoritas atau manipulasi.

Informasi dan algoritma media sosial yang menciptakan “ruang gema” (echo chambers), pemikiran Habermas tentang Ruang Publik (Public Sphere) menjadi semakin relevan.

Ia melihat ruang publik sebagai jantung demokrasi. Ketika ruang publik kita tercemar oleh hoaks, kebencian, dan polarisasi ekstrem, Habermas adalah orang yang paling depan mengingatkan kita untuk kembali pada etika diskursus.

Ia adalah musuh bagi segala bentuk fanatisme. Baginya, akal sehat adalah jangkar agar kita tidak terombang-ambing dalam ekstremisme.

–000–

Kini, Sang Penjaga Akal Sehat itu telah tiada. Namun, tugas yang ia titipkan belum usai.

Di tengah krisis demokrasi dan ancaman disintegrasi sosial, suara Habermas akan terus bergema di ruang-ruang kelas, di meja-meja diskusi, dan di setiap sudut di mana manusia masih mau duduk bersama untuk berdialog.

Selamat jalan, Jürgen Habermas. Terima kasih telah mengajarkan kami bahwa di tengah gelapnya krisis, dialog adalah cahaya, dan nalar adalah kompasnya.

Warisan pemikiranmu akan terus menyinari ruang publik kami, selamanya. (***)

Pasar Minggu,16 Maret 2026
Pukul : 05.27

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *