banner 728x250

Obituary: KESUNYIAN DI MENARA GADING

  • Mengantar Pulang Profesor Yuwono
    Sudarsono

Oleh : M.Guntur Alting

KETIKA mendengar berita wafatnya Yuwono Sudarsono malam ini, ingatan saya tentangnya di beberapa momen di masa silam, hadir.

Ingatan pertama yang datang, adalah suasana sepi sore hari di Mall Pondok Indah Jakarta.
Saya baru saja keluar dari toko buku Gramedia, mata saya tiba-tiba tertuju satu sosok yang duduk di kursi roda.

Saya mengenal sosok itu, karena wajahnya sangat familiar, sering muncul di layar TV.

” Nak, lihat si bapak yang duduk di kurs roda itu! kamu kenal tidak? tidak kenal Aba” Tanya saya pada Putri saya, dan itulah jawabannya.

Saya maklumi, jarang sekali anak-anak zaman sekarang bisa hafal nama menteri, jangankan yang mantan menteri, yang masih jabat saja mereka tidak hafal, termasuk juga kita.

Saya pernah tulis di esai Emil Salim, di era Suharto, sejak bangku SD kita udah hafal satu persatu nama menteri.

” Dia itu Prof.Yuwono Sudarsono, mantan Menteri Pertahanan dan dosen hukum internasional UI” kata saya dan dia hanya mengangguk.

Tentu saya tidak meminta untuk foto denganya, takut menganggu privasinya dan membuat dia tidak nyaman di atas kursi roda.

Saya membayangkan jika saya minta izin untuk foto mungkin ia akan mengizinkan, tapi pasti pria berotot yang mengiringi dia di kursi roda pasti melarang ” siapa pula orang ini, ujuk-ujuk minta foto”

Pikir saya dalam hati. (Maklum masih norak, mental anak kampung) he he..

–000–

Momen kedua, adalah ketika saya membaca kiprahnya di suatu kesempatan di perpustakaan UI. Saat ia msih menjadi menteri Pertahanan di era SBY.

Saya lupa detail judul bukunya. Namun saya masih ingat, di buku itu mengupas tentang kiprahnya.

​Saya ingin meriview berdasarkan ingatan saya dari buku yang say baca sebagai berikut :

Di panggung internasional, Prof. Yuwono adalah seorang arsitek “diplomasi sunyi”. Beliau tidak percaya pada diplomasi meja makan yang penuh kepura-puraan atau retorika podium yang membakar emosi tanpa isi.

Baginya, kedaulatan sebuah bangsa tidak ditegakkan dengan isolasi atau konfrontasi yang membabi buta, melainkan dengan kecerdasan untuk menempatkan Indonesia dalam konstelasi global secara bermartabat.

​Sebagai Menteri Pertahanan sipil pertama, dalam bacaan saya, ia menghadapi tugas yang hampir mustahil: mereformasi institusi militer yang telah puluhan tahun mengakar dalam politik, tanpa menciptakan guncangan yang merobohkan negara.

Di sinilah letak jeniusnya. Ia masuk ke markas-markas besar bukan sebagai komandan yang memerintah, tapi sebagai seorang guru yang mengajak berdialog.

Ia berbicara tentang profesionalisme militer dengan bahasa intelektual yang begitu jernih, sehingga para jenderal sekalipun merasa sedang diajak berpikir, bukan sedang dihakimi.

Buku itu juga menyebut bahwa beliau adalah penengah yang mampu menjinakkan ketegangan antara tuntutan reformasi sipil dan tradisi korps militer dengan keanggunan seorang diplomat ulung.

​Namun, di balik semua pencapaian itu, hal yang paling menyentuh dari sosok Prof. Yuwono menurut saya adalah sifat “asketisnya.”

Di era di mana kekuasaan sering kali dirayakan dengan kemewahan yang vulgar, beliau memilih jalan yang sunyi.

Baginya, menduduki jabatan publik adalah sebuah bentuk “puasa”—sebuah laku prihatin untuk menahan diri dari segala bentuk godaan materi demi menjaga kejernihan nurani.

​Beliau adalah pejabat yang tidak merasa butuh untuk “tampak” penting. Kita mungkin masih ingat bagaimana beliau lebih memilih menggunakan mobil dinas yang sederhana atau bahkan terlihat di bandara tanpa pengawalan yang berlebihan, membaur dengan rakyat yang ia layani.

Asketisme ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan sebuah pernyataan politik yang kuat: bahwa integritas seorang pemimpin tidak diukur dari berapa banyak orang yang menyembahnya, tetapi dari seberapa tangguh ia menjaga jarak dengan syahwat kekuasaan.

–000–

​Hari ini, ia berpulang namun kepergiannya tidak ditandai dengan dentum meriam atau keriuhan yang dibuat-buat.

Prof. Dr. Yuwono Sudarsono berpulang sebagaimana ia hidup: dalam keanggunan yang sunyi, dalam kesederhanaan yang justru memancarkan wibawa paling tinggi.

Ia adalah tipe manusia yang tidak perlu berteriak untuk didengarkan, karena kejernihan berpikir dan ketulusan budinya telah menjadi pengeras suara yang menembus sekat-sekat perbedaan.

​Bagi banyak orang, Prof. Yuwono adalah “Menteri Segala Zaman”. Namun, julukan itu seringkali gagal menangkap esensi terdalam dari sosoknya.

Ia bukan sekadar teknokrat yang lihai meniti buih di berbagai rezim; ia adalah seorang jangkar.

Di masa-masa sulit transisi demokrasi, saat hubungan sipil dan militer berada di titik nadir, ia hadir bukan sebagai pendobrak yang kasar, melainkan sebagai penenun yang sabar.

Sebagai Menteri Pertahanan sipil pertama di era reformasi, ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada moncong senjata, melainkan pada supremasi ide dan kekuatan diplomasi yang santun.

​Di ruang-ruang kuliah Universitas Indonesia, ia adalah oase bagi para pencari ilmu. Bagi mahasiswanya, kuliah Prof. Yuwono bukan sekadar transfer teori Hubungan Internasional yang rumit.

Beliau mengajarkan sesuatu yang jauh lebih fundamental: etika. Di tangannya, politik tidak lagi menjadi seni tentang “siapa mendapat apa”, melainkan sebuah pengabdian tentang “bagaimana martabat bangsa dijaga”.

Ia seringkali terlihat berjalan kaki di selasar kampus dengan tas jinjingnya yang sederhana, menyapa mahasiswa dengan senyum yang tulus—sebuah pemandangan yang mengingatkan kita bahwa intelektualitas sejati selalu berbanding lurus dengan kerendahan hati.

–000–

​Ada sebuah asketisme yang melekat erat pada dirinya. Di tengah gaya hidup pejabat yang seringkali gemerlap, Prof. Yuwono tetap menjadi pribadi yang “selesai” dengan dirinya sendiri.

Ia tidak mengejar panggung, tidak haus akan pengakuan, dan sama sekali tidak tergiur oleh akumulasi materi. Kekayaan sesungguhnya bagi beliau adalah tumpukan buku, ketajaman analisis, dan kehormatan yang tidak bisa dibeli.

Ia membuktikan sebuah tesis langka: bahwa seseorang bisa berada di puncak kekuasaan tanpa harus kehilangan jiwanya.

​Kepergiannya meninggalkan lubang besar yang sulit ditambal. Kita kehilangan seorang kompas moral di saat bangsa ini seringkali kehilangan arah dalam labirin kepentingan.

Namun, mengenang Yuwono Sudarsono bukanlah tentang meratapi kehilangan, melainkan tentang merayakan sebuah teladan.

Ia telah mewariskan sebuah standar tinggi tentang bagaimana menjadi seorang intelektual-publik: seseorang yang berani berbicara kebenaran di depan kekuasaan (speaking truth to power), namun tetap melakukannya dengan bahasa yang memanusiakan manusia.

–000–

Akhir​nya, mengenang Yuwono Sudarsono adalah merenungkan kembali apa artinya menjadi seorang *scholar-statesman.”

Ia membuktikan bahwa intelektualitas tidak harus membuat seseorang menjadi sombong, dan kekuasaan tidak harus membuat seseorang menjadi korup.

Beliau telah menjadi jembatan antara dunia “ide yang abstrak” dan realitas politik yang keras, tanpa pernah sekalipun membiarkan kakinya tergelincir ke dalam lumpur oportunisme.

​Kini, sang begawan telah beristirahat. Ia meninggalkan kita di tengah dunia yang semakin bising oleh klaim-klaim kebenaran sepihak.

Namun, jejak kepemimpinannya yang teduh akan tetap menjadi kompas bagi generasi mendatang. Ia telah menunjukkan bahwa cara terbaik untuk mencintai negara ini bukanlah dengan menguasainya, melainkan dengan melayaninya dalam kesunyian yang jujur.

​Selamat jalan, Prof. Yuwono. Di balik kesunyian kepergianmu, ada gemuruh doa dan rasa hormat yang tak akan pernah usai dari bangsa yang pernah kau jaga martabatnya. (***)

Pejaten Barat, 28 Maret 2026
Pukul : 22.05

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *