- Disampaikan di Masjid Raya Puri Cinere, Jumat 27 Maret 2026.
Oleh : M.Guntur Alting
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
وَبَرَكَاتُهُ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga kita berada di bulan Syawal—bulan yang secara harafiah bermakna “peningkatan”.
Shalawat kepada Rasullah dengan mengucapkan Allahumma shalli ala Muhammad Waala Ali Mihammad.
Setelah kita ditempa di bulan Ramadan, kini tiba saatnya kita menguji apakah ketaatan kita hanya bersifat musiman atau telah bertransformasi menjadi karakter yang kokoh.
Takwa yang kita buru di bulan Ramadan bukanlah kesalehan yang egois. Takwa bukan sekadar rukuk dan sujud yang terputus dari realitas sosial.
Takwa yang sejati melahirkan “Sensitivitas Kemanusiaan”. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Ma’un, Dia mengingatkan bahwa pendusta agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.
Artinya, kesalehan ritual tanpa kepedulian sosial adalah kesalehan yang cacat.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Spirit Syawal tahun ini memanggil nurani kita untuk menoleh sejenak ke arah Iran. Sebagai sesama saudara seagama dan sesama manusia, kita tidak bisa menutup mata terhadap laporan-laporan tentang pengabaian nilai-nilai kemanusiaan, penindasan terhadap hak-hak dasar, hingga jatuhnya korban jiwa di tengah gejolak sosial dan politik di sana.
Islam datang sebagai Rahmatan lil ‘Alamin. Salah satu pilar utamanya adalah Keadilan (‘Adalah). Rasulullah SAW bersabda:
“Takutlah kalian akan perbuatan zalim, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim).
Ketika kita melihat saudara-saudara kita di Iran mengalami himpitan—baik karena sanksi internasional yang menyengsarakan rakyat sipil, maupun karena tekanan internal yang membatasi martabat manusia—maka spirit Syawal kita sedang diuji.
Apakah kita masih memiliki “hati yang hidup” untuk merasa prihatin?
–000–
Hadirin yang dirahmati Allah
Ada tiga kedalaman makna yang perlu kita renungkan terkait keprihatinan kita di Iran:
1. Perlindungan terhadap Jiwa -Hifzun Nafs
Dalam kaidah Maqashid Syariah, menjaga nyawa adalah kewajiban mutlak. Tidak ada ideologi, kepentingan politik, atau stabilitas negara yang boleh berdiri di atas tumpukan mayat rakyatnya sendiri.
Darah seorang Muslim, bahkan darah seorang manusia, jauh lebih mulia di mata Allah daripada runtuhnya Ka’bah. Keprihatinan kita di Iran adalah wujud pembelaan kita terhadap kesucian nyawa manusia.
2. Persaudaraan Islam – Ukhuwah Islamiyah
Iran adalah negeri dengan sejarah peradaban Islam yang besar. Namun saat ini, rakyatnya berada dalam pusaran konflik yang kompleks.
Keprihatinan kita bukan berarti kita mencampuri urusan politik praktis mereka, melainkan bentuk solidaritas iman.
Jika satu bagian tubuh sakit, seluruh tubuh demam. Jika rakyat Iran menderita karena ketidakadilan, maka kita di Indonesia harus merasakan kepedihan itu.
3. Konsistensi dalam Kebenaran
Syawal mengajarkan Istiqamah. Kita prihatin pada Palestina, kita prihatin pada Rohingya, maka kita pun harus memiliki standar moral yang sama untuk prihatin pada situasi di Iran.
Kita tidak boleh tebang pilih dalam membela kemanusiaan. Di mana pun penindasan terjadi, di sanalah doa dan keberpihakan kita berada.
Ma’asyiral Muslimin
Dunia hari ini seringkali kehilangan kompas moral. Kekuatan militer dan ego kekuasaan seringkali membungkam suara rakyat kecil.
Namun, sebagai umat yang baru saja dibersihkan di bulan Ramadan, kita memiliki senjata yang tidak dimiliki oleh para penguasa: yaitu kekuatan spiritual dan kejernihan hati untuk melihat kebenaran.
Barakallahu lii wa lakum fil qur’anil adzim, wa nafa’ani wa iyyakum bima fiihi minal ayati wa dzikril hakim. Aquulu qouli hadza wastighfirullahu lii wa lakum…
–000–
Khutbah Kedua
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Mengakhiri khutbah ini, mari kita kristalisasi keprihatinan kita menjadi tiga langkah nyata pasca-Syawal:
Pertama, Perbanyak Literasi dan Tabayyun. Di era disinformasi, jangan mudah terprovokasi oleh narasi yang mengadu domba sesama umat Islam terkait situasi di Iran. Lihatlah dengan kacamata kemanusiaan.
Fokuslah pada perlindungan warga sipil, perempuan, dan anak-anak yang selalu menjadi korban pertama dalam setiap konflik.
kedua, Langitkan Doa. Di saat kita menikmati keamanan di negeri ini, jangan lupa menyisipkan nama saudara-saudara kita di Iran dalam sujud kita.
Mintalah agar Allah menurunkan sakinah (kedamaian) di hati mereka dan memberikan hidayah kepada para pemegang otoritas agar memerintah dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan.
Ketiga, Perkuat Persatuan Nasional. Situasi di luar negeri harus menjadi cermin bagi kita. Betapa mahalnya harga kedamaian.
Mari kita jaga ukhuwah di tanah air agar tidak terjadi perpecahan yang bisa mengundang intervensi dan penderitaan kemanusiaan yang serupa.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah Ramadan kita, menguatkan langkah kita di bulan Syawal, dan senantiasa menolong saudara-saudara kita yang terzalimi di Iran, Palestina, dan seluruh pelosok bumi.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Doa untuk umat Muslim, memohon kedamaian, keadilan, dan keselamatan bagi rakyat Iran serta seluruh dunia
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، اللَّهُمَّ فَرِّجْ عَنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ
عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ…






