banner 728x250

IRAN PENENTU TRAJEKTORI PERANG

Leverage Iran
​Untuk meningkatkan bargaining chip-nya guna mengakhiri perang dengan Iran, AS dan Israel kini mengarahkan serangan ke infrastruktur sipil Iran, seperti depot minyak, rumah sakit, sekolah, bank Iran, dan terakhir infrastruktur ekspor 90 persen minyak Iran di Puluau Kharga – kesemuanya merupakan kejahatan perang setelah sebelumnya menyerang sekolah SD di Minab yang menewaskan lebih dari 170 murid perempuan. Hal ini lebih jauh menegaskan kepongahan mereka terhadap kapasitas militer, sejarah, dan budaya Iran.

Iran masih punya banyak stok senjata mematikan yang belum digunakan, negara ini merupakan satu di antara segelintir bangsa kuno yang belum pernah berhasil ditaklukkan kekuatan asing, dan budaya pemujaan mati syahid yang dicontohkan para Imam sucinya, terutama Imam ke-3 dari 12 Imam – yaitu, Husain bin Ali bin Abi Thalib yang juga merupakan cucu Nabi Muhammad – yang lebih memilih mati ketimbang menyerah pada kezaliman. Kendati sudah tahu ia menjadi sasaran pembunuhan, Khamenei menolak bersembunyi. Ia mengikuti jalan yang dipilih Imam Husain menghadapi balatentara Umayyah bersenjata lengkap di Karbala, Irak.

Semangat berkorban nyawa inilah yang terlihat di Iran har-hari ini.

Di tengah pemboman Israel-AS, ratusan ribu rakyat Iran masih saja turun ke jalan mendukung rezim. Di panggung regional dan internasional, sekutu Arab dan Eropa mengambil posisi sendiri. Arab menganggap AS telah mengkhianati mereka. Suara mereka mencegah perang tak diindahkan dan ketika mereka jadi sasaran kemarahan Iran, AS membiarkannya. Bersatu melawan Iran justru akan menciptakan bahaya lebih besar. Di dalam negeri, publik Arab tahu Iran adalah korban kolonialisme-impereliasme Israel dan AS yang konsisten membela Palestina ketika penguasa mereka tak berdaya.

Lagi pula, ambruknya rezim mullah Iran akan menciptakan Timteng yang rentan. Israel akan merealisasikan proyek Zionisme, yang teritorinya mencakup sebagian Mesir, Yordania, Suriah, dan Lebanon. Posisi UE juga serba salah. Saat mereka menjatuhkan sanksi berat atas Rusia menginvasi Ukraina, mengapa kini mereka harus membantu AS dan Israel yang melanggar hukum internasional? Apalagi Trump kini mencabut sanksi atas Rusia. Hal ini akan memperkuat posisi Putin yang oleh NATO dipandang mengancam keamanan Eropa. Israel sendiri pelaku genosida di Gaza. Sebagaimana Arab, UE juga khawatir setelah rezim Iran runtuh, Israel akan melanjutkan perang ke negara tetangga.

Bahkan, para elite Israel sudah mulai menyinggung Turki menjadi sasaran berikutnya. Dalam posisi kuat, Iran mengajukan syarat penghentian perang. Pertama, AS berjanji tidak lagi melancarkan perang pada waktu mendatang; kedua, tidak melawan Iran menjalankan program nuklirnya secara penuh; ketiga, mencabut semua sanksi; keempat, ganti rugi sekaligus mencairkan dana Iran puluhan miliar dollar AS yang dibekukan AS pasca jatuhnya Dinansti Pahlavi 1979; terakhir, Israel harus mundur dari wilayah pendudukan Palestina. Tuntutan Iran ini memang sulit dipenuhi musuhnya. Tapi AS=Israel tak punya cukup leverage untuk mengabaikannya.

Proksi Iran di Yaman, Houthi, siap meluncurkan rudal ke Israel, kilang minyak Arab, dan kapal kargo yang melintasi Laut Merah, bila Iran memintanya. Hashd al-Shaabi, proksi Iran lain di Irak, akan berfokus pada sasasaran Israel dan infrastruktur sipil Arab. Leverage lain yang dimiliki Iran adalah dukungan Rusia dan China, serta kemampuannya menutup Selat Hormuz. Bila perang berkelanjutan, eskalasi krisis ekonomi dunia meningkat, posisi Partai Republik akan kalah telak dalam pemilu sela pada November mendatang. Dus, pemerintahan Trump akan lumpuh. Krisis akan meningkat cepat bila Iran menyerang bank-bank di Israel dan Arab Teluk yang terkait dengan AS.

Masa Depan Timteng
​Harus diakui perang asimiteris ini lebih menguntungkan Iran. Bila AS dan Israel meningkatkan serangan, terutama menargetkan infrastruktur sipilnya, Iran akan meratakan pangkalan militer AS, kilang minyak Arab, serta infrastruktur sipil lainnya yang berkaitan dengan AS, maka krisis ekonomi dunia akan bertransformasi menjadi krisis geopolitik global yang mengancam ketertiban dunia. Timteng kehilangan posisi strategis sebagai produsen energi dunia utama, Israel menghadapi kehancuran, dan ekonomi serta kredibilitas AS sebagai penjaga kedamaian dunia akan merosot tajam.

Bencana ini bersumber dari ambisi tak realistis Israel yang membutakan mereka dari banyak variable Timteng, khususnya Iran, untuk dijadikan pertimbangan serius sebelum melancarkan serangan. Berikut, ego Trump dan orang-orang neokonservatif yang rasis tidak tahu sejarah dampak intervensi AS di banyak negara, terutama negara-negara Timteng, struktur kekuasaan rezim Iran, kegagalan memahami kekuatan oposisi dalam negeri dan kapasitas militer Iran, serta kerakusan terhadap energi Iran.

Kalau perang berakhir dengan kemenangan Iran, maka Teheran akan muncul sebagai hegemon di kawasan, Israel mengecil, dan Palestina merdeka. Rusia dan China akan mengisi kevakuman yang ditinggalkan AS. Alhasil, perang ini – apapun hasilnya – mudah-mudahan akan menciptakan Timteng baru yang stabil dan perdamaian berkelanjutan berbasis pada visi bersama yang beradab dan berkeadilan untuk tujuan kemakmuran bersama.

Masa lalu harus dijadikan pelajaran, masa depan harus dipersiapkan matang, dan hari ini adalah ruang kesadaran bahwa egoisme, kebiadaban, kerakusan, pertentangan ideologis, dan dominasi, adalah kekuatan yang menghanguskan kemanusiaan kita. Kadang perang perlu untuk menghancurkan kekuatan jahat seperti Nazi Jerman, tapi hari ini perang yang dilancarkan untuk menghilangkan martabat, independensi, dan kebebasan sebuah bangsa berpotensi melahirkan bencana terbesar pasca Perang Dunia II. Dunia hanya bisa diselamatkan bila dunia Bersatu melawan kekuatan jahat Trump-Netanyahu.

Tangsel, 17 Maret 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *