Tim Sukses Berbalik Kritik: “Proyek Jumbo Tak Terbagi, Pengusaha Kecil Tersingkir”
TERNATE – Pondasi politik Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dinilai mulai digoyang dari dalam. Kelompok yang dulu mati-matian memenangkan Sherly di Pilkada kini mulai berbalik angkat suara dan melayangkan kritik tajam.
Pengamat politik Muslim Arbi menilai ini gejala wajar dari kebuntuan kepentingan.
“Ini soal ganima alias bagi-bagi harta rampasan perang yang tidak adil. Mungkin itu masalahnya,” ujar Muslim Arbi, Direktur Gerakan Perubahan Indonesia, Minggu 19/7/2026.
Diduga Akibat “Monopoli Proyek Jumbo”
Muslim menduga akar persoalan adalah pola pengelolaan proyek yang tidak merata.
Gubernur Sherly dinilai sengaja menciptakan proyek-proyek jumbo dengan mekanisme pengadaan yang tidak fair dan monopolistik. Akibatnya, “kue pembangunan” tidak terbagi merata dan menimbulkan kecemburuan.
“Proyek-proyek yang bisa dipecah untuk dibagi secara merata tidak dilakukan. Namun Gubernur membuat proyek-proyek jumbo yang diduga diberikan kepada kroni-kroninya.Maka ya, pengusaha kecil dan lemah tidak terakomodir dengan sendirinya,” jelasnya.
Jika sinyalemen itu benar, Muslim menilai Sherly kurang bijak. Padahal politik butuh kebijaksanaan untuk mengurai masalah dengan damai.Selain itu prinsipnya pengelolaan proyek harus fair dan sistimatis.
“Sherly tak sistimatis dan tak bijak,” sebutnya singkat.
Mindset Bisnis Diduga Kuat Pengaruhi Kebijakan
Lebih jauh, Muslim menyorot latar belakang Gubernur.
“Gubernur Sherly itu mungkin ya terdidik sejak kecil sebagai pedagang dan pebisnis. Jadi di otaknya full otak bisnis. Maka jika ada yang mengatakan motif kepentingan untung pribadi sangat kuat di balik setiap kebijakan Gubernur itu bole jadi masuk itu barang,” terang Muslim.
Puji Gerakan Kontrol dari Eks Pejuang Pemekaran
Di sisi lain, Muslim mengapresiasi langkah “eks pejuang pemekaran Provinsi Maluku Utara” yang kini gencar melakukan kontrol.
“Mereka menggunakan bahasa ideal dalam melakukan kritik dan kontrol terhadap kekuasaan Sherly Tjoanda. Itu sangat bagus,” puji Muslim kepada Arsad “Caken” Sangaji dan kawan-kawan.
Ia juga menilai isu keadilan yang diusung kelompok itu relevan dengan kondisi Malut saat ini.
Namun Muslim berharap gerakan ini naik kelas menjadi gerakan yang konsisten.
“Harus menjadi gerakan yang istiqomah agar pengawasan terhadap pemerintahan Sherly-Sarbin berjalan efektif, dalam rangka membangun pemerintah daerah Maluku Utara yang profesional dan adil,” tutupnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemprov Malut terkait tudingan monopoli proyek dan kritikan dari eks tim sukses tersebut.













