banner 728x250
DAERAH  

GURABATI OPEN: SEBUAH PERAYAAN EKSISTENSI

Oleh: M.Guntur Alting

Kita hanya bisa me.ahami yang besar melalui yang kecil….” (Von Goethe)

GURABATI, sebuah nama yang mungkin tak tercatat dalam “peta besar” sepak bola dunia, sebuah ritual kembali dimulai. Edisi ke-28.

Angka itu bukan sekadar hitungan waktu, tapi sebuah ketekunan—sebuah narasi tentang bagaimana sebuah komunitas menolak untuk lekas lupa dan lekas menyerah.

​Laga pembuka antara A.S. Rumania FC dan Garuda Tomagoba FC, bukan sekadar perkara dua puluh dua (22) orang memperebutkan si kulit bundar.

Ia adalah sebuah “teater.” Di sana, kita melihat bagaimana “identitas diri” dikukuhkan.

Sepak bola, dalam banyak hal, adalah sisa-sisa dari “agon”–pertarungan kuno yang jujur—di mana kehormatan tidak ditentukan oleh kontrak-kontrak yang dingin, melainkan oleh “keringat” yang tumpah di atas rumput.

​Mungkin kita perlu melihat ini dengan cara yang sedikit berbeda.

Di kota-kota besar, sepak bola telah menjadi industri yang “teralienasi,” dijauhkan dari akarnya oleh uang dan birokrasi.

Namun di Tidore, sepak bola tetap menjadi milik orang banyak. Ketika ribuan penonton memadati stadion, mereka tidak sedang menonton “komoditas.”

Mereka sedang “merayakan” keberadaan mereka sendiri. Mereka sedang membangun sebuah “kita” yang solid di tengah dunia yang makin tercerai-berai.

​Ada sebuah paradoks di sana. Di satu sisi, ada gairah yang meluap-luap, mungkin berbahaya, yang bisa saja memicu “keretakan.”

Namun di sisi lain, ada sebuah keteraturan yang tumbuh dari bawah, sebuah “politik lokal” yang sadar bahwa tanpa ketertiban, pesta akan lekas usai.

Pemerintah kota, dalam hal ini, menjadi saksi dari sebuah “energi” yang sudah lama ada sebelum mereka menjabat.

Von Goethe, seorang penyair dan filsuf asal Jerman pernah menulis bahwa: “kita hanya bisa memahami yang besar melalui yang kecil.”

Gurabati, dengan segala kesahajaanya, adalah “miniatur” dari bangsa ini. Ada harapan, ada prasangka, ada loyalitas yang tak terbeli, dan ada hasrat untuk menang yang tak pernah padam.

​Di akhir hari, sepak bola di Gurabati hanyalah sebuah “parabel.” Tentang manusia yang terus berusaha mencari ruang untuk merayakan hidup, di antara sorak-sorai yang riuh dan “keheningan” setelah peluit panjang ditiup.

Seperti dalam setiap pertunjukan, yang tersisa bukanlah siapa yang menang atau kalah, melainkan jejak langkah kaki di rumput yang akan kembali tumbuh pada musim berikutnya.

Gurabati, bukan liga-liga raksasa yang penuh drama gaji pemain. Bukan pula soal stadion yang megah tapi tidak terawat.

​Ini soal lapangan kelurahan yang hidup. Soal “antusiasme” yang asli. Soal kebanggaan daerah.

Ini membawa ingatan ​saya pada puluhan tahun yang silam, ketika duduk di bangku Madrasah Aliyah Gurabati, sekolah yang bersisian tepat di stadion ini.Gurabati adalah pesta. Dan di “Gurabati Open Tournament”, pesta itu belum berakhir. Malah makin besar.

Akhir​nya, Peluit GOT telah ditiup..

Selamat bertanding..

Jaga sportivitas. Karena sportivitas adalah nilai yang paling mahal.

Salam dari Jakarta.(***)

Pejaten, 8 Juni 2026
Pukul : 03.20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *